Nama Bayi Laki-Laki Dan Perempuan

Friday, March 9, 2012

Nabi Ishak ‘alaihis salam

Setelah Allah mengaruniakan Isma’il kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala agar dikaruniakan anak dari istrinya yang bernama Sarah; istri yang selalu setia bersamanya dalam menegakkan kalimatullah.

Maka Allah mengabulkan doanya dan mengutus beberapa malaikat dalam bentuk manusia untuk menyampaikan kabar gembira kepadanya akan lahirnya seorang anak dari istrinya; Sarah.Mereka juga memberitahukan tujuan mereka yang lain, yaitu pergi mendatangi kaum Luth untuk menimpakan azab kepada mereka.

Ketika para malaikat itu datang kepada Nabi Ibrahim, maka ia menyambut mereka dengan sebaik-baiknya dan mendudukkan mereka di ruang tamu, selanjutnya ia segera menyiapkan jamuan makan untuk mereka. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah seorang yang selalu memuliakan tamu di samping sebagai seorang yang dermawan.

Tidak lama kemudian, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam datang membawa anak sapi yang gemuk yang telah dipanggang serta menghidangkannya kepada mereka, tetapi mereka tidak makan dan tidak meminum jamuan yang telah dihidangkan itu, hingga akhirnya Nabi Ibrahim merasa takut terhadap mereka, maka malaikat-malaikat itu pun menenangkannya dan memberitahukan kepadanya tentang diri mereka serta memberikan kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang ‘alim (berilmu).

Ketika itu, Sarah mendengar pembicaraan mereka, maka ia datang dalam keadaan heran terhadap kabar gembira yang mereka sampaikan, bagaimana ia akan melahirkan sedangkan ia seorang wanita yang sudah tua lagi mandul (ketika itu usianya 90 tahun), sedangkan suaminya juga sudah lanjut usia (lihat surat Hud: 72). Maka malaikat berkata, “Demikianlah Tuhanmu memfirmankan. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Terj. Adz Dzaariyat: 30)

Mendengar berita itu, Nabi Ibrahim pun menjadi tenang dan berbahagia; apa yang dinanti-nantikannya ternyata akan tiba.

Selang beberapa waktu, maka datanglah apa yang dinantikan itu, istrinya yaitu Sarah melahirkan seorang anak yang kemudian diberi nama Ishaq oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Saat itu, usia Nabi Ibrahim 100 tahun. Ishaq lahir empat belas tahun setelah kelahiran Isma’il.

Al Qur’anul Karim tidak menyebutkan secara panjang lebar kisah Nabi Ishaq ‘alaihis salam, demikian pula tentang kaum yang kepada mereka diutus Nabi Ishaq. Akan tetapi Allah memuji Nabi Ishaq di beberapa tempat dalam Al Qur’an, di antaranya:

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi.–Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.–Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (Terj. QS. Shaad: 45-47)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memuji Nabi Ishaq dalam sabdanya,

الكَرِيمُ، ابْنُ الكَرِيمِ، ابْنِ الكَرِيمِ، ابْنِ الكَرِيمِ يُوسُفُ بْنُ يَعْقُوبَ بْنِ إِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ

“Yang mulia putera yang mulia, putera yang mulia dan putera yang mulia adalah Yusuf putera Ya’qub, putera Ishaq, putera Ibrahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ahli Kitab menyebutkan, bahwa Ishaq ketika menikahi Rafqah binti Batu’il saat ayahnya (Nabi Ibrahim) masih hidup, saat itu usianya 40 tahun. Istrinya adalah seorang yang mandul, maka Nabi Ishaq berdoa kepada Allah untuknya, hingga istrinya pun hamil dan melahirkan anak yang kembar; yang pertama bernama ‘Iishuu. Orang-orang Arab menyebutnyta ‘Iish; ia adalah nenek moyang bangsa Romawi. Yang kedua bernama Ya’qub. Disebut Ya’qub karena ia lahir dalam keadaan memegang tumit saudaranya. Ia juga disebut Israil, yang merupakan nenek moyang Bani Israil.

Setelah menyelesaikan tugasnya sebagai nabi dan rasul, maka Nabi Ishaq ‘alaihis salam wafat.

Selesai dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Sumber : www.masjidalamanah.com

Friday, March 11, 2011

Video Gempa 8.9 SR dan Tsunami Jepang

Video Gempa 8.9 SR dan Tsunami Jepang part 1.avi


Video Gempa 8.9 SR dan Tsunami Jepang part 2.avi

Tokyo - Gempa berskala 8,9 skala richter (SR) yang mengguncang Jepang pada pukul 05.46 GMT mengakibatkan gelombang tsunami. Tsunami menerjang mencapai jarak 5 KM dari garis pantai. Salah satunya wilayah Fukushima.

Seperti yang diberitakan Kantor Berita Xinhua, Jumat (11/3/2011), Perdana Menteri Jepang Naoto Kan menghimbau kepada publik untuk tetap tenang menghadapi bencana.

"Pemerintah kami akan mengupayakan segala cara untuk meminimalisir kerusakan yang disebabkan oleh gempa," kata Kan pada konferensi pers setelah pertemuan tersebut.

Tsunami setinggi 10 meter telah menyapu Kota Sendai sehingga banyak rumah terendam air laut. Sementara itu, landas pacu Bandara Sendai terendam akibat tsunami, menurut laporan dari media lokal.

Badan Meteorologi Jepang (JMA) pertama menaikkan skala gempa dari 7.9 SR menjadi 8.4 SR dan kemudian menaikkannya lagi menjadi 8.9 SR, yang dinyatakan badan tersebut sebagai salah satu gempa terbesar yang pernah tercatat di Jepang.

Survei Geologis Amerika Serikat melaporkan besar gempa adalah 8.9 SR, gempa terbesar yang pernah dialami oleh Jepang, menurut NHK.

Pusat dari gempa yang terjadi pada pukul 14.46 waktu setempat dan 05.46 GMT terletak di sekitar 130 km sebelah timur Prefektur Miyagi di kedalaman 24.4 km di bawah permukaan laut, menurut JMA.

Peringatan tsunami meluas ke daerah Pasifik, Asia Tenggara dan negara-negara Amerika Latin, termasuk Selandia Baru, Chili, Indonesia, Filipina dan Taiwan.

Di Tokyo dan sekitarnya, sekitar 4 juta rumah mengalami pemadaman lisrik.

Sekretaris Kepala Kabinet, Yukio Edano mengatakan bahwa Pemerintah Jepang telah mengerahkan pasukan ke Prefektur Miyagi. Dan Menteri Pertahanan mengirimkan delapan pesawat tempur untuk memeriksa kerusakan di daerah-daerah yang paling parah terkena dampak tsunami.

Dan Kepolisian Jepang mengerahkan 900 pasukan penyelamat ke daerah yang terkena gempa di daerah Timur Laut Jepang.

Sementara kebakaran dilaporkan terjadi di 48 lokasi, termasuk di sebuah pabrik besi di Prefektur Chiba.

Gempa tersebut mempengaruhi sarana-sarana transportasi utama Jepang, termasuk bandara Narita yang ditutup untuk pengecekan keselamatan di landas pacunya.

Tayangan televisi menunjukkan bahwa perahu nelayan dan mobil-mobil terbawa arus ke dalam kota dan air berlumpur menyapu daerah pertanian dan kendaraan-kendaraan yang terbalik terlihat ikut mengambang di air.

Wednesday, February 2, 2011

Mesir, Sudah 400 Orang Terluka | Photo Unjuk rasa di Lapangan Tahrir

Unjuk rasa di Lapangan Tahrir menuntut mundurnya Presiden Mesir Hosni Mubarak makin marak. Menurut warta CNN, AP, dan AFP pada Rabu (2/2/2011) malam, terjadi aksi kekerasan yang melibatkan dua pihak yakni para pendukung Mubarak versus anti-Mubarak.

Selain itu, sering terdengar pula bunyi tembakan sekaligus terlihat lemparan bom-bom molotov, batu, dan sebagainya yang datang dari kedua belah pihak. Hingga saat ini, militer dan aparat keamanan hanya memberikan tembakan peringatan tatkala demonstasi berubah menjadi baku lempar.

Sementara itu, Juru Bicara Menteri Kesehatan Mesir Abdel Rahman Shaheen mengatakan kepada media pemerintah, ambulans sudah mengevakuasi sekitar 400 demonstran yang terluka. Pada unjuk rasa yang memasuki hari kesembilan tersebut, kata juru bicara tadi, satu orang aparat keamanan Mesir













Wednesday, November 3, 2010

Photo Gunung Merapi | Hikmah dari Bencana Alam









Apa Yang Terjadi Pasti ada hikmah yang ter simpan

Thursday, March 18, 2010

Makanan Bayi




Resep Makanan Bayi 6-8 Bulan: Bubur Kentang Ati

Bahan:

50 gram beras aron
100 gram kentang - dipotong kotak kecil
10 gram ati sapi atau ati ayam - dipotong kotak
50 gram bayam - diiris halus
1 siung bawang putih - dicincang halus
1 batang daun seledri - dicincang halus
1/4 sendok teh keju parut
500 ml kaldu sapi
Cara membuat:

1. Rebus kaldu, aron, dan bawang putih
2. Setelah berasnya merekah, tambahkan kentang, seledri, dan ati sapi/ayam
3. Masak, sambil diaduk.
4. Setelah mengental, masukkan bayam dan keju. Aduk lalu angkat, dan sajikan hangat.

Untuk : 2 porsi


Resep Makanan Bayi 6-8 Bulan: Beras Merah dan Ayam

Bahan:

50 gram beras merah
50 gram kacang merah
450 ml air
2 lembar daun salam
100 gram ayam giling
1 buah tomat - dicincang halus
50 gram bayam merah - dicincang halus
50 gram wortel - diparut halus
2 siung bawang putih - dicincang halus
1 sendok makan daun seledri cincang
1/2 sendok makan keju parut (sebagai ganti garam)

Cara membuat:

1. Rebus beras merah, kacang merah, daun salam, dan air sampai beras mengembang
2. Masukkan ayam giling & tomat
3. Masak lagi sambil ditekan-tekan, agar lembut
4. Tambahkan bayam, wortel, bawang putih, keju, dan seledri
5. Aduk hingga matang. Angkat dan sajikan hangat

Untuk: 3 porsi

Sumber : www.tipsbayi.com

Saturday, February 27, 2010

Cara Mudah Mendidik Anak Mencintai Islam




Setiap orangtua tentu menginginkan anaknya menjadi saleh dan mencintai agamanya. Bagaimana caranya?

Ibnu Asakir meriwayatkan Hadits dari Sa’ad bin Abi Waqqas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) melarang Umair bin Abi Waqqas ikut dalam perang Badar karena dianggap masih kecil. Tapi anehnya, larangan itu membuat Umair terpukul dan menangis. Sekalipun masih kecil, di dalam diri Umair sudah tertanam kuat bahwa perang membela Islam itu sebuah kemuliaan yang amat tinggi.

Melihat reaksi Umair, Rasulullah SAW luluh juga. Beliau kemudian mengijinkan anak yang belum cukup umur itu ikut berjihad.

Kisah lain diriwayatkan oleh Ibnu Syaibah Asy-Sya’bi yang terjadi pada perang Uhud. Ada seorang ibu dengan sangat semangat mengantarkan anaknya yang masih kecil kepada Rasulullah SAW agar diikutkan perang. Dia berharap sekali agar Rasulullah SAW mengizinkan anaknya berpartisipasi dalam berjihad seraya berkata, “Ya Rasulullah, ini anakku sudah siap menyertai Anda berperang.” Rasulullah SAW kemudian memerintahkan anak itu membantu membawa peralatan perang.

Pada waktu perang berlangsung, anak tersebut terluka. Ia lalu mendatangi Rasulullah SAW. Beliau bersabda, “Hai anakku, semoga engkau tidak gelisah dan bersedih hati!” Dengan tegas ia menjawab, “Tidak, ya Rasulullah.”

Kisah di atas adalah sebuah gambaran bagaimana para sahabat Rasulullah SAW berhasil mendidik putra-putranya mencintai Islam sepenuh jiwa dan raganya. Sekarang pertanyaannya, bisakah kita mendidik anak-anak kita menjadi anak seperti kisah di atas ?

Harus kita akui bahwa menjadi orangtua pada zaman sekarang tidaklah mudah. Apalagi jika mengharapkan anak yang tidak sekedar pintar, melainkan juga taat dan mencintai Islam sepenuhnya.

Untuk mendidik anak agar saleh, kita tidak bisa sepenuhnya menyerahkan kepada sekolah. Tapi peran aktif orangtua juga amat diperlukan dalam masalah ini. Orangtua harus menjadi contoh yang baik bagi anaknya.

Mana mungkin anak mau disuruh shalat atau membaca al-Qur`an, jika orangtuanya tidak shalat dan tidak senang membaca Kitab Suci tersebut.

Nah, di bawah ini ada beberapa langkah yang bisa dilakukan orangtua dalam mendidik anaknya agar menjadi anak yang saleh dan mencintai Islam.

1. Menanamkan Akidah dan Syariah Sejak Dini

Menanamkan akidah yang kokoh adalah tugas utama orangtua. Orangtualah yang punya pengaruh besar dalam tumbuh dan berkembangnya sendi-sendi agama dalam diri anak. Rasulullah SAW bersabda, "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu dan bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (Riwayat Bukhari).

Tujuan penanaman akidah pada anak adalah agar si buah hati mengenal secara benar siapa Tuhannya. Sejak masih dalam kandungan, seorang ibu bisa memulainya dengan sering bersenandung mengagungkan asma Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT). Begitu lahir, si bayi dibiasakan mendengarkan ayat-ayat al-Qur`an.

Pada usia dini, anak diajak untuk belajar menalar bahwa dirinya, orangtuanya, seluruh keluarganya, manusia, dunia, dan seluruh isinya diciptakan oleh Allah SWT. Dari sini orangtuanya bisa menyampaikan kepada anaknya, mengapa manusia harus beribadah dan taat kepada Allah SWT.

Selanjutnya, anak dikenalkan dengan asma dan sifat-sifat Allah SWT. Dengan cara ini anak mengetahui betapa Allah Maha Besar, Maha Perkasa, Maha Kaya dan seterusnya. Jika anak bisa memahaminya dengan baik, insya Allah, akan tumbuh sebuah kesadaran pada dirinya untuk senantiasa mengagungkan Allah SWT dan bergantung hanya kepada-Nya. Lebih dari itu, kita berharap dengan itu akan tumbuh benih kecintaan anak kepada Allah SWT; cinta yang akan mendorongnya gemar melakukan amal yang dicintai Allah SWT.

Kemudian, penanaman akidah pada anak harus disertai dengan pengenalan hukum-hukum syariah secara bertahap. Proses pembelajarannya bisa dimulai dengan memotivasi anak untuk senang melakukan hal-hal yang dicintai oleh Allah SWT misalnya, dengan mengajak shalat, berdoa, atau membaca al-Qur`an bersama.

Yang tidak kalah penting adalah menanamkan akhlak seperti berbakti kepada orangtua, santun dan sayang kepada sesama, bersikap jujur, berani karena benar, tidak berbohong, bersabar, tekun bekerja, bersahaja, sederhana, dan sifat-sifat baik lainnya. Jangan sampai luput untuk mengajarkan bahwa itu semua semata-mata untuk meraih ridha Allah SWT, bukan untuk mendapatkan pujian atau pamrih duniawi.

2. Kerjasama Ayah dan Ibu

Anak akan lebih mudah memahami dan mengamalkan hukum jika dia melihat contoh langsung dari orangtuanya. Orangtua adalah guru dan orang terdekat bagi si anak yang harus menjadi panutan. Oleh karenanya, orangtua dituntut untuk bekerja keras memberikan contoh dalam memelihara ketaatan serta ketekunan dalam beribadah dan beramal saleh. Insya Allah, dengan begitu anak akan mudah diingatkan secara sukarela.

Tentu saja hal yang demikian membutuhkan kerjasama yang kompak antara ayah dan ibu. Jika ayah dan ibu masing-masing mempunyai target dan cara yang berbeda dalam mendidik anak, tentu anak akan bingung. Bahkan mungkin akan memanfaatkan orangtua menjadi kambing hitam dalam kesalahan yang dilakukannya. Ambil contoh, seorang ayah sudah bersusah payah agar anaknya mau shalat. Namun, karena sang ibu merasa tidak perlu, tentu saja akan membingungkan anaknya dan menjadikan si ibu sebagai alasan dia untuk tidak shalat.

3. Peran Lingkungan, Keluarga, dan Masyarakat

Pendidikan yang diberikan oleh orangtua kepada anak belumlah cukup untuk mengantarkan si anak menjadi manusia yang berkepribadian Islam. Anak juga membutuhkan sosialisasi dengan lingkungan dimana dia beraktivitas, baik di sekolah, rumah, maupun masyarakat secara luas.

Di sisi inilah, lingkungan dan masyarakat memiliki peran penting dalam pendidikan anak. Masyarakat yang menganut nilai-nilai, aturan, dan pemikiran Islam, seperti yang dianut juga oleh sebuah keluarga Muslim, akan mampu mengantarkan si anak menjadi seorang Muslim sejati.

Potret masyarakat sekarang yang sangat dipengaruhi oleh nilai dan pemikiran materialisme, sekularisme, permisivisme, hedonisme, dan liberalisme merupakan tantangan besar bagi keluarga Muslim.

Hal ini yang menjadikan si anak hidup dalam sebuah lingkungan yang membuatnya berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi dia mendapatkan pengajaran Islam dari keluarga, namun di sisi lain anak bergaul dalam lingkungan yang sarat dengan nilai yang bertentangan dengan Islam.

Tarik-menarik pengaruh lingkungan dan keluarga akan mempengaruhi sosok pribadi anak. Untuk mengatasi persoalan ini, maka dakwah untuk mengubah sistem masyarakat yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam mutlak harus dilakukan. Hanya dengan itu akan muncul generasi Islam yang taat syariah. Insya Allah. *Ernawaty, pengajar di TK Ya Bunayya Surabaya.

Sumber : www.hidayatullah.com
Di Majalah Suara Hidayatullah Edisi September 2009

Monday, February 15, 2010

Hikmah Bencana Alam




Ibnu Qayyim berkata:

“Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusanNya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah. Namun akal kita sangat terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia dibawah sinar matahari. Dan ini pun hanya kira-kira, yang sebenarnya tentu lebih dari sekedar gambaran ini.”

Diantara beberapa hikmah yang bisa saya kutip diantaranya:

1. Sabar sebgai konsekuensi menghadapi kesulitan dan kesusahan. Allah berfirman:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira pada orang-orang yang sabar,(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun (Sesungguhnya semua berasal dr Allah dan akan kembali kpd_NYa). Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.Al-Baqarah:155-157)

2. Menghapuskan dosa dan kesalahan. Allah berfirman:

“Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri,dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS.Asy-Syura:30)

Dari Sahabat Abu Hurairah dan Abu Sa’id radiallahuanhu : Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah gulanaan hingga duri yang menusuknya melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya. (HR. Bukhari)

3. Dicatat sebagai kebaikan dan derajat ditinggikan.

“Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu,melainkan ditetapkan baginya dengan sebab itu satu derajat dan dihapuskan pula satu kesalahan darinya” (HR.Muslim)

4. Jalan menuju syurga. Dari Abu Hurairah,Rasulullah SAW bersabda:

“Syurga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai dan Neraka itu dikelilingi dengan berbagai macam syahwat.” (HR. Bukhari – Muslim)

Allah berfirman dalam sebuah hadist qudsi:

“Tidaklah ada suatu balasan (yang lebih pantas di sisiKu bagi hambaKu yang beriman, jika Aku telah mencabut nyawa kesayangannya dari penduduk dunia kemudian dia bersabar atas kehilangan orang kesayanagnnya itu, melainkan Surga.” (HR. Bukhari)

5. Membawa keselamatan dari api neraka

“Janganlah kamu mencacimaki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan menghapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi” (HR. Muslim)

6. Mengembalikan hamba kepada Rabb-nya dan mengingat kelalaiannya. Allah berfirman:

“Dan sesungguhnya KAmi telah mengutus Rasul-Rasul kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami timpa mereka dengan kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk dan merendahkan diri.” (QS.Al-An’am : 42)

7. Mengingat nikmat Allah yang lalu dan yang ada. Seorang penyair berkata: Seseorang tidak mengenali tanda-tanda sehat selagi dia belum tertimpa sakit.

8. Mengingat keadaan saudara-saudaramu yang ditimpa musibah. Maka diantara hikmah Allah, Dia menimpakan cobaan berupa penyakit dan penderitaan kepada orang mukmin pada waktu-waktu tertentu, agar dia mengingat saudara-saudaranya yang ditimpa kesulitan, sehingga tergugah untuk membantunya.

9. Mensucikan hati. Ibnu Qayyim radiallahuanhu berkata:

“Hati dan ruh bisa mengambil manfaat dari penderitaan dan penyakit yang merupakan urusan yang tidak bisa dirasakan kecuali jika di dalamnya ada kehidupan. Kebersihan hati dan ruh tergantung kepada penderitaan badan dan kesulitannya.” (Tuhfatul Mariidh hal 25)

10. Cobaan dan ujian merupakan nikmat. Karena hikmah dari berbagai cobaan,orang – orang shalih justru gembira sekiranya mendapat cobaan spt telah mendapat kesenangan. RAsullullah SAW menyebutkan bahwa para Nabi telah ditimpa cobaan berupa penyakit, kemiskinan dan yang lainnya kemudian beliau bersabda:

“…Dan sesungguhnya salah seorang diantara mereka benar-benar merasa gembira karena mendapat cobaan, sebagaimana salah seorang merasa gembira karena telah mendapatkan kelapangan.” (HR. Ibnu Majah)

Sumber : www.jilbab.or.id

Monday, November 9, 2009

Sahabat Nabi




Dengan membaca kisah para sahabat nabi, semoga lebih menggugah semangat kita untuk melaksanakan ibadah.

ENAM PULUH SAHABAT NABI

  1. MUSH'AB BIN UMAR : Duta Islam yang pertama.
  2. SALMAN AL-FARISI : Pencari kebenaran.
  3. ABU DZAR AL-GHIFARI : Tokoh gerakan hidup sederhana.
  4. BILAL BIN RABAH : Muadzin Rasulullah ... Lambang persamaan derajat manusia.
  5. ABDULLAH BIN UMAR : Tekun beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah.
  6. SA'AD BIN ABI WAQQASH : Singa yang menyembunyikan kukunya.
  7. SHUHAIB BIN SINAN : Abu Yahya yang selalu mendapat laba.
  8. MU'ADZ BIN JABAL : Cendekiawan Muslim yang palin tahu mana yang halal dan mana yang haram.
  9. MIQDAD BIN 'AMR : Pelopor barisan berkuda dan ahli filsafat.
  10. SA'ID BIN AMIR : Pemilik kebesaran di balik kesederhanaan.
  11. HAMZAH BIN ABDUL MUTHALIB : Singa Allah dan panglima syuhada.
  12. ABDULLAH BIN MAS'UD : Yang pertama kali mengumandangakn Al-Qur'an dengan suara merdu.
  13. HUDZAIFAH IBNUL YAMAN : Seteru kemunafikan - Kawan keterbukaan.
  14. 'AMMAR BIN YASIR : Seorang tokoh penghuni surga.
  15. 'UBAIDAH BIN SHAMIT : Tokoh yang gigih menentang penyelewengan.
  16. KHABBAB BIN ARATS : Guru besar dalam berkorban.
  17. ABU 'UBAIDAH IBNUL JARRAH : Orang kepercayaan ummat.
  18. UTSMAN BIN MAZH'UN : Yang pernah mengabaikan kesenangan hidup duniawi.
  19. ZAID BIN HARITSAH : Tak ada orang yang lebih dicintainya daripada Rasulullah.
  20. JA'FAR BIN ABU THALIB : Jasmani maupun perangainya mirip Rasulullah.
  21. ABDULLAH IBNU RAWAHAH : Yang bersemboyan : Wahai diri .... Jika kau tidak gugur di medan juang .... Kau tetap akan mati ... Walau di atas ranjang.
  22. KHALID IBNUL WALID : Ia selalu waspada, dan tidak membiarkan orang lengah dan alfa.
  23. QEIS BIN SA'AD BIN 'UBADAH : Kalau tidaklah karena Islam, maka ia lah ahli tipu muslihat Arab yang paling lihai.
  24. UMEIR BIN WAHAB : Jagoan Quraisy yang berbalik membela Islam yang gigih.
  25. ABU DARDA : Seorang budiman dan ahli hikmat yang luar biasa.
  26. ZAID IBNUL KHATTHAB : Rajawali pertempuran Yamamah.
  27. THALHAH BIN UBAIDILLAH : Pahlawan perang Uhud.
  28. ZUBAIR BIN AWWAM : Pembela Rasulullah s.a.w.
  29. KHUBAIB BIN 'ADI : Pahlawan yang syahid di kayu salib.
  30. UMEIR BIN SA'AD : Tokoh yang tak ada duanya.
  31. ZAID BIN TSABIT : Penghimpun Kitab Suci Al-Qur'an.
  32. KHALID BIN SA'ID BIN 'ASH : Anggota pasukan berani mati angkatan yang pertama.
  33. ABU AIYUB AL-ANSHARI : Pejuang di waktu senang ataupun susah.
  34. ABBAS BIN ABDUL MUTHALIB : Pengurus air minum untuk Kota Suci Mekah dan Madinah (Haramain).
  35. ABUHURAIRAH : Otaknya menjadi gudang perbendaharaan pada masa Wahyu.
  36. AL BARRA' BIN MALIK : Allah dan Surga.
  37. UTBAH BIN GHAZWAN : "Esok lusa akan kalian lihat Pejabat-pejabat Pemerintah yang lain daripadaku"
  38. TSABIT BIN QEIS : Juru bicara Rasulullah.
  39. USAID BIN HUDLAIR : Pahlawan hari Saqifah.
  40. ABDURRAHMAN BIN 'AUF : "Apa sebabnya anda menangis, Hai Abu Muhammad".
  41. ABU JABIR ABDULLAH BIN 'AMR BIN HARAM : Seorang yang dinaungi malaikat.
  42. AMR IBNUL JAMUH : "Dengan cacat pincangku ini, aku bertekad merebut surga".
  43. HABIB BIN ZAID : Lambang kecintaan dan pengurbanan.
  44. UBAI BIN KA'AB : "Selamat nagimu, hai Abu Munzir, atas ilmu yang kau capai".
  45. SA'ADZ BIN MU'ADZ : "Kebahagiaan bagimu, wahai Abu Amr".
  46. SA'AD BIN UBADAH : Pembawa bendera Anshar.
  47. USAMAH BIN ZAID : Kesayangan, putera dari kesayangan.
  48. ABDURRAHMAN BIN ABI BAKAR : Pahlawan sampai saat terakhir.
  49. ABDULLAH BIN 'AMR BIN 'ASH : Tekun beribadat dan bertaubat.
  50. ABU SUFYAN BIN HARITS : Habis gelap terbitlah terang.
  51. 'IMRAN BIN HUSHAIN : Menyerupai malaikat.
  52. SALAMAH BIN AL-AKWA : Pahlawan pasukan jalan kaki.
  53. ABDULLAH BIN ZUBEIR : Seorang tokoh dan syahid yang luar biasa.
  54. ABDULLAH BIN ABBAS : Kyai ummat ini.
  55. 'ABBAD BIN BISYIR : Selalu disertai cahaya Allah.
  56. SUHEIL BIN 'AMAR : Dari kumpulan orang yang dibebaskan, masuk golongan para pahlawan.
  57. ABU MUSA AL-ASY'ARI : Yang penting keikhlasan, kemudian terjadilah apa yang akan terjadi.
  58. THUFEIL BIN 'AMR AD-DAUSI : Suatu fithrah yang cerdas.
  59. 'AMR BIN 'ASH : Pembebas Mesir dari cengkeraman Romawi.
  60. SALIM MAULA ABU HUDZAIFAH : Sebaik-baik pemikul Al-Qur'an.

DAFTAR PUSTAKA

Khalid Muhammad Khalid, Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah yang disusun oleh dan telah dialihbahasakan oleh Mahyuddin Syaf, dkk, CV Penerbit Diponegoro, Bandung.

Thursday, November 5, 2009

MENGINGAT KEMATIAN




Manusia dalam bahaya

Sesungguhnya manusia senantiasa berada dalam keadaan rawan. Karena kematian senantiasa mengancamnya dari segala arah, bahkan kenyataannnya setiap detik ada orang yang meninggal. Baik karena bencana seperti banjir, longsor, gempa, atau karena konflik, kecelakaan, kejahatan, penyakit dan wabah, bahkan banyak di antara kita yang sehat wal'afiat, jauh dari wilayah konflik dan bencana serta hidup dengan aman sejahtera, namun mendadak meninggal.

Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya, pasal hadits-hadits para nabi, bab kematian Nabi Musa u , dari Abu Hurairah t : " Malaikat maut diutus kepada Nabi Musa (dengan menyerupai manusia) membawa kabar kematian. Maka Nabi Musa menampar mukanya tepat pada matanya. Lalu malaikatpun kembali kepada Allah dan berkata: ya Robbi Engkau telah mengutusku kepada orang yang tidak menginginkan kematian. Allah menjawab: baiklah katakan pada Musa agar meletakan tangannya pada tubuh sapi dan katakan bahwa usianya akan ditambah sebanyak bulu sapi yang tertutup oleh telapak tangannya itu, 1 helai sama dengan 1 tahun. Seteleh pesan itu disampaikan Nabi Musa u berkata: ya Robbi setelah itu apa? Allah I menjawab: "setelah itu adalah kematian". Akhirnya Nabi Musapun berkata: kalau demikian halnya matikanlah saya sekarang".

Jadi masalahnya bukan bagaimana caranya kita menghindari kematian itu. Karena kematian itu pasti datang, baik ditunggu ataupun dilupakan, baik dalam keadaan genting ataupun aman, dalam keadaan senang atau sedih. Tapi masalahnya adalah bagaimana keadaan kita ketika kita sudah masuk ke alam barzakh (kubur) kemudian masuk ke alam Akhirat. Apakah kita akan masuk ke dalam golongan orang-orang mu'min atau sebaliknya masuk ke dalam golongan orang-orang berdosa dan kafir.

Dari Barra bin Azib (t), bahwa Rasulullah e bersabda dalam hadits yang panjang:

" Sesungguhnya hamba yang mu'min jika sudah dalam detik-detik meninggalkan dunia menuju Akherat, ia akan didatangi oleh serombongan Malaikat yang banyaknya sejauh mata memandang, wajah mereka bersinar laksana matahari, mereka membawa kain kafan dari Surga yang amat wangi. Lalu turunlah malaikat maut untuk mencabut ruhnya. Lalu dikeluarkanlah ruh itu dengan amat mudah seperti mengeluarkan setetes air dari mulut teko. Kemudian para malaikat pun segera mengambil ruh itu dan meletakkannya di atas kain kafan, maka tersebarlah aroma wewangian yang luar biasa. Lalu rombonganpun membawa ruh itu ke atas langit sampai bertemu dengan Allah I. Setiap malaikat langit yang berpapasan bertanya kepada mereka: Ruh siapakah gerangan yang harum ini? rombonganpun menjawab: ini adalah ruh fulan bin fulan dengan menyebut nama panggilannya yang paling bagus ketika ia di dunia. Lalu seluruh malaikat langitpun ikut mengiring ruh yang baik ini sampai bertemu dengan Rabbul Izzah. Ketika sampai, Allah I berfirman: tulislah hambaku ini ke dalam golongan orang-orang yang tinggal di Surga 'Illiyyin" (surga yang tinggi). Lalu rombongan-pun kembali ke bumi dan memasukan kembali ruh itu ke dalam jasadnya ketika ia sudah berada di lubang lahad …...

Adapun hamba yang kafir saat kematiannya tiba, datanglah rombongan malaikat yang bermuka hitam, banyaknya sejauh mata memandang, mereka membawa kain lap kumal dan berbau busuk. Lalu turunlah malaikat maut, mengumpulkan nyawanya dari seluruh anggota tubuh, lalu keluar dengan menarik ruhnya sekaligus seperti mencabut kawat berduri dari kapas yang basah,. Maka rombongan malaikatpun dengan kasar meletakan ruh itu ke atas kain busuk tadi sehingga tersebarlah bau busuk yang menyengat. Lalu rombonganpun membawa ruh tersebut ke atas langit. Setiap kali berpapasan dengan malaikat, malaikat itu menghindar sambil bertanya: ruh siapakah gerangan yang amat bau ini ? rombongan pun menjawab : ini adalah ruh si fulan bin fulan dengan menyebut namanya yang paling jelek waktu di dunia .Ketika sampai di langit pertama pintu pun di ketuk, namun malang malaikat penjaga langit tidak mengizinkannya untuk menghadap Rabbul Izzah.

Lalu Rasululah membaca ayat:

"Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan berlaku sombong terhadapnya tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak akan masuk Syurga hingga seekor unta dapat melewati lubang jarum, dan demikianlah kami membalas orang-orang jahat" . (Surat Al-A'rof:40)


Maka rombonganpun melemparkan ruh itu dan menghempaskannya ke bawah dengan sekeras-kerasnya. Lalu Rasulullah membaca Firman Allah :""Dan barang siapa yang menyekutukan Allah maka sesungguhnya itu seperti dilemparkan dari atas langit sehingga disambar burung atau diterbangkan angin ke tempat yang dalam".(Surat Al-Haj:31). (Hadits riwayat Ahmad, Abu Daud dan Nasai).

Demikianlah perjalanan ruh setiap anak manusia setelah kematiannya. Hanya ada dua kemungkinan, menjadi ruh yang baik atau sebaliknya menjadi ruh yang buruk. Dan bagi orang yang mu'min kematian adalah merupakan 'bel istirahat' dari kepenatan kehidupan dunia. Sekarang ia beristirahat di alam barzah yang luas terbentang menunggu Hari Kiamat dengan tidur pulas sehingga tidak merasakan kejemuan menunggu.

Sementara ruh bagi orang yang kafir dan banyak dosa , maka kematiannya merupakan bagaikan 'sirine kebakaran'. Ia akan memulai hari-harinya dengan kesibukan-kesibukan menghadapi siksa Allah yang tidak pernah ada hentinya. Firman Allah I :

"Kepada mereka dinampakkan api Neraka setiap pagi dan petang. Dan pada hari Kiamat (diperintahkan kepada Malaikat): masukanlah Fir'aun dan pengikutnya ke dalam azab yang sangat keras". (Surat Al-Mu'min:46)

Mengingat Mati adalah obat mujarab

Banyaknya problema kehidupan yang kita hadapi, dan menumpuknya kewajiban yang kita pikul - sehingga seorang muslim merasakan benar apa yang dikatakan oleh seorang juru da'wah bahwa kewajiban itu lebih banyak dari waktu yang tersedia - Tentu akan membuat lelah fisik, penat pemikiran dan ruhiyah. Sehingga banyak yang merindukan adanya hari ke delapan dan ke sembilan.

Seseorang datang kepada Umar bin Khattab t lalu mengatakan: "tidakkah tuan beristirahat sejenak dari pekerjaan ini". Beliau menjawab: bukan di sini tempat beristirahat, tapi tempat istirahat kita adalah di Akhirat".
Tidak ada yang lebih ampuh nasehatnya daripada nasehat yang diberikan jenazah dan batu nisan, oleh karenanya menghadirkan gambaran keadaan kita ketika maut menjelang adalah perbuatan yang sangat utama bagi orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya. Wallahu A'lam Bishshawab

Imran Rosadi, Lc.

Sunday, November 1, 2009

Bersyukur Atas Ilmu Menghormati Ibu




Semoga ini bermanfaat untuk anak2 kita, kelak dikemudian hari anak2 kitalah yang akan menjadi manusia yang sangat menghormati ibunya. Amin....

"Bersyukur Atas Ilmu Menghormati Ibu"

Dua puluh sembilan tahun yang lalu, seorang ibu melahirkan seorang anak yang nampak normal seperti anak yang baru lahir lainnya. Saat melihat perkembangan anak tersebut, ibu itu jadi khawatir karena anaknya belum bisa bicara sebagaimana anak lain yang seusianya. Lalu ibu itu berdiskusi dengan dua orang kakak dari anak itu, mengenai solusi apa yang bisa dilakukan agar anak kecil itu bisa cepat bicara.

Dua orang kakaknya yang masih berumur sekitar 3 tahun dan 5 tahun mempunyai inisiatif, yaitu setiap hari jum'at siang mereka menempatkan adiknya di atas meja yang dilewati oleh orang-orang yang baru pulang dari menyembah Tuhannya. Kedua kakaknya itu meminta pada setiap orang yang menurut hati mereka doanya dikabulkan oleh Tuhannya, lalu anak kecil yang berumur 3 tahun selalu berucap pada orang-orang yang dihampirinya "Kek, Kak, Pak, mohon do'a kan adikku agar bisa cepat bicara ".

Orang-orang yang diminta itu lalu menghampiri anak yang belum bisa bicara, dan mulutnya mulai berkomat-kamit serta meniupkan angin pada kepala anak kecil itu. Kejadian yang tidak biasa itu terus berlangsung berbulan-bulan, sampai anak kecil itu bisa bicara dengan hanya satu kata "mama". Saat mulai menginjak umur 6 tahun, teman-teman sepermainan anak itu mulai memasuki SD, namun anak itu ditolak oleh semua SD yang ada karena meskipun badannya seukuran dengan yang lainnya tapi umur anak itu masih 1 tahun dibawah teman-teman sepermainannya. Anak kecil itu menahan kesedihan yang dalam karena tak dapat menikmati apa yang dinikmati oleh teman-temannya.

Ibunya bisa merasakan kesedihan anak itu, lalu ibu dan bapak anak itu berusaha mencari SD yang bisa menerimanya, dan akhirnya menemukan sebuah SD yang masih kurang muridnya dikarenakan kualitas SD tersebut tidaklah sehebat SD disekitarnya sehingga orang enggan memasukan anaknya ke SD tersebut.

Anak kecil itu baru bisa membaca huruf A, B sampai Z saat menginjak kelas 2 SD. Rata-ratanya tidak pernah menginjak diatas angka 7 apalagi 8 sehingga rangkingnya di kelas selalu rangking di bawah 3 dari bawah. Ibunya sangat menyayangi anak itu walaupun menyadari kebodohan anaknya itu yang sangat jauh berbeda dengan saudara-saudaranya yang selalu mendapat rata-rata di atas 7 bahkan 8 serta rangkingnya selalu di bawah 3 dari atas.

Pada saat menginjak kelas 4 SD, anak itu di asramakan pada sebuahpesantren yang cukup terkenal di kota Bandung. Lamanya sekitar 2 bulan selama liburan sekolah SD saat itu. Pada saat di pesantren banyak sekali ilmu yang dijejali ke dalam otaknya, tapi tak satupun yang bisa diingat dan dipahami. Sehingga dia sering menjadi anak yang menggangu bagi proses belajar di pesantren itu. Dan anak itupun terus menerus dipindah-pindahkan dari satu kelas ke kelas yang dibawahnya secara periodik.

Pada saat semua anak-anak dengan jumlah ratusan yang ada di pesantren itu duduk bersama untuk mendengarkan nasihat dari seorang 'Buya' yang menjadi sesepuh di pesantren besar itu. Buya berkata "hai anak-anakku jika dirimu menghormati ibumu sehingga ibumu menjadi bahagia dengan kelakuan dirimu padanya, maka pahala yang didapatkan dirimu jauh lebih besar daripada pahala orang yang ibadah haji dengan ikhlas". Anak itu sangat bahagia karena dia mendapatkan sebuah ilmu yang sangat berharga baginya.

Setelah pendidikan di pesantren itu selesai, banyak dari teman-temannya yang menjadi pintar dalam berbagai ilmu agama, ada yang bisa menghapal surat-surat dari kitab suci, ada yang bisa menghapal do'a-do'a, ada yang hapal semua perkataan nabi tercinta dan banyak lagi teman-temannya yang menjadi sangat pintar dalam ilmu agama tersebut. Saat anak itu pulang ke rumah ibunya, dan ditanya oleh ibunya "ilmu apa yang dirimu dapatkan anakku", si anak menjawab dengan bahagia "saya hanya mempunyai satu ilmu yang akan ku ingat dan kulaksanakan selama hidupku, yaitu menghormati dan membuat hati bahagia 'mama'".

Sejak saat itu, pada saat dia keluar rumah si anak selalu mencium tangan ibunya dengan niat untuk menghormati dan membahagiakan ibunya. Ibunya selalu berkata "Anakku, semoga apa yang dirimu inginkan terkabulkan oleh Tuhan Semesta Alam", anak itu sering melakukannya saat keluar rumah walaupun hanya sekedar membeli sebuah permen.

Kemudian saat dia masuk kembali di sekolah SD nya, didalam hatinya hanya ada satu keinginan, yaitu mendapatkan nilai di buku sekolahnya di atas 7 walaupun menurut dirinya itu tidaklah mungkin dengan kemampuan otaknya yang sangat bodoh. Namun keajaiban terjadi, dia mendapatkan nilai yang diinginkannya ketika menginjak kelas 6 SD. Setelah mendapatkannya maka cita-citanya berganti yaitu ingin masuk SMP negeri.

Saat Nem SD dibagikan, anak itu memperoleh nilai yang sangat bagus menurut anak itu, namun sangat jelek menurut teman-teman yang lainnya. Tapi anak itu tetap bersyukur dengan nilai yang diluar dugaannya. Dia akhirnya masuk SMP dengan nilai terkecil dari SMP negeri itu adalah nilai Nem dirinya. Saat masuk SMP, cita-citanya berubah lagi yaitu ingin mencoba merasakan masuk rangking dibawah 3 dari atas. Akhirnya keinginannya terpenuhi pada saat kelas tiga SMP.

Kemudian cita-citanyapun berubah lagi yaitu ingin masuk SMA negeri di kota, lagi-lagi keinginannya terpenuhi dan dia memasuki SMA di kota dengan nilai Nem terendah adalah nilai Nem dirinya. Saat masuk SMA dia berubah lagi cita-citanya, dia ingin menjadi murid terbaik di sekolah itu. Akhirnya cita-citanya terpenuhi saat berada di kelas 3 SMA dan kemudian diapun bisa memasuki sekolah tinggi terkenal di Indonesia.

Suatu hari anak itu bertemu dengan teman-teman kecilnya, dan menanyakan sekolah tinggi yang digelutinya saat itu. Saat anak itu menjawab pertanyaan teman-teman kecilnya, mereka tidak percaya dan menganggap anak itu berbohong. Namun anak itu tidaklah marah karena dia sendiripun tidak percaya pada rizqi yang didapatinya, yang ia lakukan hanyalah bersyukur kepada Tuhannya dan lebih memperdalam mengenai "Ilmu Menghormati Ibu".

Saat memasuki sekolah tinggi, si anak itu tidaklah terlalu pintar dibanding teman-temannya yang sangat cerdas dan jenius. Tapi anehnya lagi hanya anak itu yang sering lolos mendapatkan beberapa beasiswa dengan nilai uang yang cukup besar, bahkan melebihi seluruh biaya sekolahnya saat itu. Teman-teman kuliahnya dan si anak itu heran dengan apa yang terjadi, namun sekali lagi yang dilakukan anak yang bodoh itu hanya bersyukur dan lebih memperdalam "Ilmu menghormati Ibu".
Setelah keluar dari sekolah tinggi yang cukup bergengsi itu, dia mulai kerja pada perusahaan dosennya. Pada saat mulai kerja di tempat itu, dia melihat seorang ibu yang merupakan adik dari bosnya yang nampak kesulitan membuat gambar untuk desertasinya. Si anak melihat ibu itu bagai melihat ibunya sendiri, dan dia mulai mengaplikasikan ilmu andalannya yaitu "Ilmu Menghormati Ibu". Anak itu membantunya dengan ikhlas, karena dia merasa ibu itu adalah ibunya sendiri. Anehnya lagi ibu itu akhirnya menjadi ibu daripacarnya yang baru dikenalnya.

Kemudian anak itu diterima di instansi pemerintah yang baru berdiri. Salah satu dari atasannya adalah seorang ibu, dia melihat atasannya bagaikan melihat ibunya dan lagi-lagi si anak itu mulai mengaplikasikan "Ilmu Menghormati Ibu". Akhirnya walaupun ibu itu tidak begitu disukai oleh teman-teman anak itu, tapi dia begitu sayang pada anak buahnya itu sehingga ke daerah manapun ibu itu pergi, dia selalu membawa anak yang selalu mengamalkan ilmunya tersebut.

Setelah 2 tahun, si anak itu lagi-lagi mendapatkan rizqi yaitu dia mendaftar beasiswa sekolah S2 bersama teman-teman di instansinya. Dari kemampuan bahasa inggrisnya si anak itu jauh dibawah teman-temannya yang sangat pintar dan sering menerjemahkan buku-buku bahasa inggris ke indonesia. Sekali lagi anehnya yang keterima hanya berdua, salah satunya si anak yang bodoh itu.

Saat mengikuti kursus di jakarta, pada hari pertama gabung bersama yang akan dikirim keluar negeri namun karena bodohnya dalam bahasa inggris, di hari kedua dia di pindah ke kelas yang di fokuskan untuk sekolah di dalam negeri. Anak itu awalnya kecewa, tapi akhirnya dia mensyukurinya karena dia merasa memang sangat bodoh. Dikelasnya yang baru banyak dari teman-temannya yang berusaha mati-matian untuk merubah tujuannya agar bisa sekolah keluar negeri.

Namun si anak itu hanyalah cukup mensyukuri apa yang didapatinya,pada saat selesai kursus itu, anehnya yang diputuskan oleh panitia untuk ke negeri kangguru dari kelas itu adalah anak itu beserta seorang sahabatnya yang sama-sama tidak berambisi ke negeri kangguru. Untuk mensyukurinya, anak itu mulai menerapkan kembali "Ilmu Menghormati Ibu", dia menelpon ibunya dan mengatakan bahwa selama dia di negeri kangguru semua gajihnya untuk ibunya .

Pacar anak itu mengharapkan untuk menikah terlebih dahulu, si anak dalam hatinya gembira dan mengiyakan juga namun ada satu hal yang mengganjal dalam hatinya, yaitu dia sudah menjanjikan gajinya untuk ibunya. Anak itu bingung menjawab ya, sebelum ada solusi dari kebimbangan hatinya. Namun pada saat bertemu ibunya tanpa keluar satu patah katapun dari anak itu, ibunya seakan mengerti dan paham akan kegelisahan anak itu dan berkata "Anakku, mama ucapkan banyak terima kasih atas niat baikmu, namun gajihnya biarlah disimpan untuk bekalmu nanti".

Mendengar ucapan ibunya, anak itu merasa lega dan mulai mengatakan niatnya untuk mempersunting pacarnya. Dan akhirnya pernikahanpun terlaksana. Sebelum berangkat ke negeri kangguru, anak itu berpesan pada istrinya agar meneruskan dan menerapkan ilmu yang hanya ada satu di otaknya yaitu "ilmu menghormati ibu", setelah istrinya mengiyakan barulah anak itu berangkat dengan hati yang tenang.

Pada saat di negeri kangguru, anak itu dikursuskan terlebih dahulu bersama teman-temannya yang sangat bagus dalam berbahasa inggris. Setiap ujian si anak itu selalu dapat nilai terbawah, namun anak itu tidaklah kecewa karena dia menyadari akan kebodohannya, yang dia lakukan hanyalah bersukur dan terus menerapkan "Ilmu Menghormati Ibu" dimana dia tiap minggu selalu menelpon ibunya, juga menelpon istrinya yang diakhiri dengan nasehat agar slalu menerapkan"Ilmu Menghormati Ibu"

Pada saat kursus hampir mendekati selesai, anehnya lagi si anak mendapatkan nilai yang bagus. Dan lebih aneh lagi anak itu mendapatkan penghargaan bersama salah seorang yang telah diberkahi Tuhan dalam menghapal semua firmanNya. Teman-teman dan Anak itu sungguh bingung, padahal anak itu anak yang paling bodoh tapi bisa mendapatkan penghargaan bersama anak yang paling pintar. Yang dia lakukan hanya bersyukur karena penghargaan itu diluar kemampuan otaknya yang bodoh. Anak itu tidaklah merasa dirinya pintar dikarenakan mendapatkan penghargaan tersebut. Dia hanya terus bersyukur dan lebih memperdalam "Ilmu Menghormati Ibu".

Anak itu dari kecil sampai saat ini sering bermimpi dalam tidurnya dengan mimpi yang aneh-aneh, dulu waktu kecil pernah bermimpi menemukan uang dan besoknya memang menemukan uang. Dulu dia bermimpi rumahnya bertingkat serta ada mobil kijang yang berwarna biru, dan anehnya lagi itu terjadi saat dia masuk SMA. Anak itupun pernah bermimpi bertemu dan ngobrol dengan presiden Soekarno, Habibie, Gusdur, SBY, bahkan presiden Cina, Jerman, dan Amerika. Tapi anak itu merasa bahwa itu hanya mimpi dan mimpi adalah bunga tidur.

Setelah dia sering merenung mengenai negerinya, si anak kecil itu mempunyai cita-cita yang sangat tidak mungkin bagi otaknya yang sangat bodoh. Dia bercita-cita ingin jadi presiden di negerinya. Dia ingin menerapkan ilmunya yang hanya satu di otaknya, yaitu "Ilmu Menghormati Ibu". Dia ingin membahagiakan hati ibunya serta semua wanita penduduk indonesia, walaupun wanita itu masih kecil tapi dia adalah calon seorang ibu.

Anak itu berharap bahwa dengan membahagiakan semua ibu dan calon ibu, maka akan membuat effek ekonomi yang baik. Karena saat ibu dan calon ibu itu bahagia maka suaminya, anak laki-lakinya, ayahnya, saudara laki-lakinya dan semua warga indonesia akan menjadi ikut bahagia juga.Tapi itu hanyalah sebuah cita-cita yang tidak mungkin menurut otak manusia umumnya. Karena ilmu anak itu hanya bisa mensyukuri telah mendapatkan satu ilmu, yaitu "Ilmu Menghormati Ibu".

Lalu anak itu membaca kitab sucinya,

Q.S Al An'aam (6) ayat 53:

'Dan demikianlah telah Kami uji sebagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: "Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?" (Allah berfirman): "Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?" '

Q.S. Al Hajj (22) ayat 38:
"Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari ni'mat"

Anak itu membaca kitab suci ini, dia semakin bersujud dan bersyukur atas ilmunya yang hanya satu yang akan selalu diingat dan diamalkan selama hidupnya, yaitu "Ilmu Menghormati Ibu"

Friday, October 23, 2009

Hukum Ikhtilath Dalam Belajar




Bolehkah dalam belajar berikhtilath (campur baur tanpa ada hijab/ pemisah) dengan laki-laki yang bukan mahram?
(6281514xxxxxx@satelindogsm.com)

Jawab :
Di dalam syariat yang mulia ini, laki-laki dan perempuan yang bukan mahram diharamkan bercampur baur dalam satu tempat tanpa adanya hijab/ pemisah antara keduanya (ikhtilath). Sama saja apakah ikhtilath itu terjadi di pasar, kantor, tempat pesta ataupun di tempat pengajaran ilmu seperti sekolah, madrasah, dan semisalnya. Karena dalam agama ini disyariatkan hijab1 antara laki-laki dan perempuan dan diperintahkan kepada masing-masing untuk menundukkan pandangan mata dari melihat hal-hal yang dapat menjerumuskan ke dalam fitnah2 seperti lelaki memandang wanita yang bukan mahramnya. Sementara ikhtilath merupakan penghalang terbesar untuk melaksanakan ketentuan agama tersebut. Dengan seringnya bersama-sama di bangku sekolah, sering bertemu, saling melempar pandangan dan ucapan, terjadilah apa yang terjadi dari fitnah. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyatakan fitnah ini dalam sabdanya yang agung:


“Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnahnya wanita.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

“Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau. Dan sungguh Allah menjadikan kalian berketurunan di atasnya, lalu Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat. Maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita, karena awal fitnah yang menimpa Bani Israil dari wanitanya.” (HR. Muslim)

Demikian bahayanya akibat yang ditimbulkan ikhtilath ini berupa kerusakan moral dan akhlak, sepantasnya kita tidak meremehkan dengan alasan darurat dan semisalnya. Tapi sikap yang semestinya kita ambil adalah berhati-hati dan menjaga diri dari ikhtilath ini.
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah ketika memberikan fatwa dalam permasalahan di atas beliau menyatakan: “Duduknya siswa dan siswi secara bersama-sama di bangku sekolah termasuk sebab terbesar terjadinya fitnah dan sebab ditinggalkannya hijab yang Allah syariatkan kepada kaum mukminat. Serta merupakan sebab dilanggarnya larangan-Nya kepada kaum mukminat untuk menampakkan perhiasan mereka di hadapan selain pihak-pihak yang disebutkan dalam surat An-Nur.”
Beliau rahimahullah juga menyatakan: “Para wanita (shahabiyyah) di masa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah ikhtilath dengan lelaki (para shahabat) baik di masjid ataupun di pasar, sebagaimana ikhtilath yang diperingatkan oleh orang-orang yang ingin mengadakan perbaikan di hari ini dan Al-Qur’an, As-Sunnah serta ulama umat ini telah memberikan bimbingan untuk menjauhinya karena khawatir dari fitnahnya.

Dulunya para wanita biasa ikut shalat di masjid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam namun mereka berada di belakang laki-laki pada shaf-shaf yang terakhir yang dinyatakan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:

“Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang paling awal dan sejelek-jeleknya adalah yang paling akhir. Sementara shaf wanita yang terbaik adalah yang paling akhir dan shaf yang paling jelek adalah yang paling depan.” (HR. Muslim)

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan demikian karena khawatir laki-laki yang ada di shaf paling belakang terfitnah dengan wanita yang berada di shaf terdepan mereka.

Kaum lelaki (para shahabat) di masa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam diperintah untuk tidak bersegera bangkit dari tempat shalatnya sampai para wanita berlalu dan keluar dari masjid, hal ini dilakukan agar lelaki tidak bercampur dengan para wanita di pintu-pintu masjid, padahal kita tahu keberadaan keimanan dan ketakwaan para shahabat dan shahabiyyah, maka bagaimana dengan keadaan orang-orang setelah mereka.

Kaum wanita dilarang oleh Rasulullah untuk berjalan di tengah jalan bahkan mereka diperintah untuk selalu berjalan di pinggir jalan karena dikhawatirkan akan bersenggolan dengan lelaki dan timbul fitnah dengan saling bersentuhannya sebagian mereka terhadap sebagian yang lain ketika berjalan di jalanan.

Terhadap ucapan orang yang mengatakan: “Kenyataan yang ada kaum muslimin sejak masa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mereka menunaikan shalat di satu masjid, laki-laki dan wanita, karena itulah pengajaran ilmu harus pula dilakukan di satu tempat.”

Maka dijawab bahwa hal itu benar adanya akan tetapi kaum wanita berada di belakang dengan berhijab, menjaga diri dari sebab-sebab yang dapat mengantarkan kepada fitnah sementara laki-laki berada di bagian depan. Kaum wanita ini mendengarkan nasehat, khuthbah dan ikut shalat berjamaah serta mempelajari hukum-hukum agama dari apa yang mereka dengar dan saksikan. Adalah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pada hari Id mendatangi tempat mereka untuk memberikan nasehat dan peringatan setelah beliau menasehati kaum lelaki, dikarenakan tempat mereka jauh dari tempat laki-laki sehingga mereka tidak dapat mendengar nasehat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Lalu bagaimana bisa disamakan pengajaran di masa kita ini dengan shalatnya laki-laki dan wanita dalam satu masjid di masa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam?

Karena itulah orang-orang yang mengadakan perbaikan menyerukan agar kaum wanita dipisah dengan kaum lelaki dalam pendidikan/sekolah-sekolah, laki-laki di satu tempat, wanita di tempat lain. Sehingga memungkinkan bagi kaum wanita ini untuk mempelajari ilmu dari pengajar/ guru wanita dengan nyaman tanpa mereka harus berhijab dan tanpa kesulitan, karena waktu ta‘lim itu panjang berbeda dengan waktu mengerjakan shalat. Dan juga wanita belajar ilmu dari pengajar wanita di tempat yang khusus lebih menjaga bagi semua pihak dan lebih menjauhkan dari sebab-sebab yang mengantarkan kepada fitnah dan lebih menyelamatkan bagi para pemuda dari fitnah. Selain itu memisahkan pemuda dan pemudi dalam pengajaran/ sekolah lebih memusatkan perhatian pemuda kepada pelajaran mereka dan menyibukkan diri dengannya, serta mendengarkan penjelasan guru/pengajar dengan baik. Mereka dijauhkan dari memperhatikan para pemudi, menyibukkan diri dengan mereka, saling pandang memandang dengan pandangan beracun dan saling mengucapkan kata-kata yang mengajak kepada kefajiran.” (Majalah Al-Buhuts Al-Islamiyyah no. 15, hal. 6-11, sebagaimana dinukil dalam kitab Hukmul Ikhtilath fit Ta‘lim)

Dari penjelasan ini dapat kita simpulkan bahwa ikhtilath merupakan perkara yang dilarang dalam agama ini sehingga seorang lelaki tidak boleh berikhtilath dengan seorang wanita dan namanya ikhtilath tetap dilarang meskipun untuk kepentingan belajar.
Wallahu a‘lam bish-shawab.


1 Lihat pembahasan hijab dalam Asy Syariah Vol. I /No. 08/1425 H/ Juli 2004, hal. 68-71
2 Lihat pembahasan fitnah laki-laki dan perempuan dalam Asy Syariah Vol I/No. 02/Mei 2003/Rabiul Awwal 1424, hal. 46-49

Sunday, October 18, 2009

Ikhlas Tempat Persinggahan




Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in
Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah

Pengantar:
Dalam kitab Madarijus Salikin, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah menyebutkan tempat-tempat persinggahan Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in diantaranya adalah ikhlas. Berikut ini saya kutipkan beberapa penggal alenia yang tercantum dalam pasal ini. Bagi yang menginginkan uraian lebih lanjut saya persilahkan membaca langsung dari sumbernya. (ALS)

Sehubungan dengan tempat persinggahan ikhlas ini Allah telah berfirman di dalam Al-Qur'an, (artinya):
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus." (Al-Bayyinah: 5)
"Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)." (Az-Zumar: 2-3)
"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya." (Al-Mulk: 2)
Al-Fudhail berkata, "Maksud yang lebih baik amalnya dalam ayat ini adalah yang paling ikhlas dan paling benar."
Orang-orang bertanya, "Wahai Abu Ali, apakah amal yang paling ikhlas dan paling benar itu ?"

Dia menjawab, "Sesungguhnya jika amal itu ikhlas namun tidak benar, maka ia tidak diterima. Jika amal itu benar namun tidak ikhlas maka ia tidak akan diterima, hingga amal itu ikhlas dan benar. Yang ikhlas ialah yang dikerjakan karena Allah, dan yang benar ialah yang dikerjakan menurut As-Sunnah." Kemudian ia membaca ayat, (artinya): "Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya." (Al-Kahfi: 110)

Allah juga berfirman, (artinya):
"Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan?" (An-Nisa': 125)
Menyerahkan diri kepada Allah artinya memurnikan tujuan dan amal karena Allah. Sedangkan mengerjakan kebaikan ialah mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Sunnah beliau.

Allah juga berfirman, (artinya):
"Dan, Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan." (Al-Furqan: 23)
Amal yang seperti debu itu adalah amal-amal yang dilandaskan bukan kepada As-Sunnah atau dimaksudkan bukan karena Allah. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada Sa'ad bin Abi Waqqash, "Sesungguhnya sekali-kali engkau tidak akan dibiarkan, hingga engkau mengerjakan suatu amal untuk mencari Wajah Allah, melainkan engkau telah menambah kebaikan, derajad dan ketinggian karenanya."

Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, (artinya):
"Tiga perkara, yang hati orang mukmin tidak akan berkhianat jika ada padanya: Amal yang ikhlas karena Allah, menyampaikan nasihat kepada para waliyul-amri dan mengikuti jama'ah orang-orang Muslim karena doa mereka meliputi dari arah belakang mereka." (HR. At-Thirmidzi dan Ahmad)

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang berperang karena riya', berperang karena keberanian dan berperang karena kesetiaan, manakah diantaranya yang ada di jalan Allah? Maka beliau menjawab, "Orang yang berperang agar kalimat Allah lah yang paling tinggi, maka dia berada di jalan Allah.

Beliau juga mengabarkan tiga golongan orang yang pertama-tama diperintahkan untuk merasakan api neraka, yaitu qari' Al-Qur'an, mujahid dan orang yang menshadaqahkan hartanya; mereka melakukannya agar dikatakan, "Fulan adalah qari', fulan adalah pemberani, Fulan adalah orang yang bershadaqah", yang amal-amal mereka tidak ikhlas karena Allah.

Di dalam hadits qudsi yang shahih disebutkan; "Allah berfirman, 'Aku adalah yang paling tidak membutuhkan persekutuan dari sekutu-sekutu yang ada. Barangsiapa mengerjakan suatu amal, yang di dalamnya ia menyekutukan selain-Ku, maka dia menjadi milik yang dia sekutukan, dan Aku terbebas darinya'." (HR. Muslim)
Di dalam hadits lain disebutkan; "Allah berfirman pada hari kiamat, 'Pergilah lalu ambillah pahalamu dari orang yang amalanmu kamu tujukan. Kamu tidak mempunyai pahala di sisi Kami'."

Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh kalian dan tidak pula rupa kalian, tetapi Dia melihat hati kalian." (HR. Muslim)

Banyak difinisi yang diberikan kepada kata ikhlas dan shidq, namun tujuannya sama. Ada yang berpendapat, ikhlas artinya menyendirikan Allah sebagai tujuan dalam ketaatan. Ada yang berpendapat, ikhlas artinya membersihkan perbuatan dari perhatian manusia, termasuk pula diri sendiri. Sedangkan shidq artinya menjaga amal dari perhatian diri sendiri saja. Orang yang ikhlas tidak riya' dan orang yang shidq tidak ujub. Ikhlas tidak bisa sempurna kecuali shidq, dan shidq tidak bisa sempurna kecuali dengan ikhlas, dan keduanya tidak sempurna kecuali dengan sabar.

Al-Fudhail berkata, "Meninggalkan amal karena manusia adalah riya', Mengerjakan amal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas ialah jika Allah memberikan anugerah kepadamu untuk meninggalkan keduanya."
Al-Junaid berkata, "Ikhlas merupakan rahasia antara Allah dan hamba, yang tidak diketahui kecuali oleh malaikat sehingga dia menulis-nya, tidak diketahui syetan sehingga dia merusaknya dan tidak pula diketahui hawa nafsu sehingga dia mencondongkannya."
Yusuf bin Al-Husain berkata. "Sesuatu yang paling mulia di dunia adalah ikhlas. Berapa banyak aku mengenyahkan riya' dari hatiku, tapi seakan-akan ia tumbuh dalam rupa yang lain."

Pengarang Manazilus-Sa'irin berkata, "Ikhlas artinya membersihkan amal dari segala campuran." Dengan kata lain, amal itu tidak dicampuri sesuatu yang mengotorinya karena kehendak-kehendak nafsu, entah karena ingin memperlihatkan amal itu tampak indah di mata orang-orang, mencari pujian, tidak ingin dicela, mencari pengagungan dan sanjungan, karena ingin mendapatkan harta dari mereka atau pun alasan-alasan lain yang berupa cela dan cacat, yang secara keseluruhan dapat disatukan sebagai kehendak untuk selain Allah, apa pun dan siapa pun."

Dipetik dari: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, "Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in, Edisi Indonesia: Madarijus Salikin Pendakian Menuju Allah." Penerjemah Kathur Suhardi, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta Timur, Cet. I, 1998, hal.

Tuesday, October 13, 2009

KEBIAASAN TERSEMBUNYI [ONANI]




Oleh : Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukum melakukan kebiasaan tersembunyi (onani) ?

Jawaban
Melakukan kebiasaan tersembunyi (onani), yaitu mengeluarkan mani dengan tangan atau lainnya hukumnya adalah haram berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Sunnah serta penelitian yang benar.

Al-Qur’an mengatakan.

“Artinya : Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampui batas” [Al-Mu’minun : 5-7]

Siapa saja mengikuti dorongan syahwatnya bukan pada istrinya atau budaknya, maka ia telah “mencari yang di balik itu”, dan berarti ia melanggar batas berdasarkan ayat di atas.

Rasulllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kamu yang mempunyai kemampuan hendaklah segera menikah, karena nikah itu lebih menundukkan mata dan lebih menjaga kehormatan diri. Dan barangsiapa yang belum mampu hendaknya berpuasa, karena puasa itu dapat membentenginya”
Pada hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang tidak mampu menikah agar berpuasa. Kalau sekiranya melakukan onani itu boleh, tentu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkannya. Oleh karena beliau tidak menganjurkannya, padahal mudah dilakukan, maka secara pasti dapat diketahui bahwa melakukan onani itu tidak boleh.

Penelitian yang benar pun telah membuktikan banyak bahaya yang timbul akibat kebiasaan tersembunyi itu, sebagaimana telah dijelaskan oleh para dokter. Ada bahayanya yang kembali kepada tubuh dan kepada system reproduksi, kepada fikiran dan juga kepada sikap. Bahkan dapat menghambat pernikahan yang sesungguhnya. Sebab apabila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan biologisnya dengan cara seperti itu, maka boleh jadi ia tidak menghiraukan pernikahan.

[As-ilah Muhimmah Ajaba ‘Alaiha Ibnu Utsaimin, hal. 9]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, Darul Haq]

Thursday, October 8, 2009

BERDIRI UNTUK MENYAMBUT YANG DATANG




Oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Ketika seseorang masuk, sementara kami sedang duduk di suatu majlis, para hadirin berdiri untuknya, tapi saya tidak ikut berdiri. Haruskah saya ikut berdiri, dan apakah orang-orang itu berdosa ?

Jawaban
Bukan suatu keharusan berdiri untuk orang yang datang, hanya saja ini merupakan kesempurnaan etika, yaitu berdiri untuk menjabatnya (menyalaminya) dan menuntunnya, lebih-lebih bila dilakukan oleh tuan rumah dan orang-orang tertentu. Yang demikian itu termasuk kesempurnaan etika. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri untuk menyambut Fathimah, Fathimah pun demikian untuk menyambut kedatangan beliau [1]. Para sahabat Radhiyallahu ‘anhum juga berdiri untuk menyambut Sa’ad bin Mu’adz atas perintah beliau, yaitu ketika Sa’ad tiba untuk menjadi pemimpin Bani Quraizah.

Thalhah bin Ubaidillah Radhiyallahu ‘anhu juga berdiri dan beranjak dari hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Ka’ab bin Malik Radhiyallahu ‘anhu datang setelah Allah menerima taubatnya, hal itu dilakukan Thalhah untuk menyalaminya dan mengucapkan selamat kepadanya, kemudian duduk kembali [3]. (Peristiwa ini disaksikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau tidak mengingkarinya). Hal ini termasuk kesempurnaan etika. Permasalahannya cukup fleksible.

Adapun yang mungkar adalah bediri untuk pengagungan. Namun bila sekedar berdiri untuk menyambut tamu dan menghormatinya, atau menyalaminya atau mengucapkan selamat kepadanya, maka hal ini disyari’atkan. Sedangkan berdirinya orang-orang yang sedang duduk untuk pengagungan, atau sekedar berdiri saat masuknya orang dimaksud, tanpa maksud menyambutnya atau menyalaminya, maka hal itu tidak layak dilakukan. Yang buruk dari itu adalah berdiri untuk menghormat, sementara yang dihormat itu duduk. Demikian ini bila dilakukan bukan dalam rangka menjaganya tapi dalam rangka mengagungkannya.

Bediri untuk seseorang ada tiga macam

Pertama.
Berdiri untuknya sebagai penghormatan, sementara yang dihormat itu dalam keadaan duduk, yaitu sebagaimana yang dilakukan oleh rakyat jelata terhadap para raja dan para pembesar mereka. Sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa hal ini tidak boleh dilakukan, karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh para sahabatnya untuk duduk ketika beliau shalat sambil duduk, beliau menyuruh mereka supaya duduk dan shalat bersama beliau sambil duduk{4]. Sesuai shalat beliau bersabda.

“Artinya : Hampir saja tadi kalian melakukan seperti yang pernah dilakukan oleh bangsa Persia dan Romawi, mereka (biasa) berdiri untuk para raja mereka sementara para raja itu duduk” [5]

Kedua.
Berdiri untuk seseorang yang masuk atau keluar tanpa maksud menyambut/mengantarnya atau menyalaminya, tapi sekedar menghormati. Sikap seperti ini minimal makruh. Para sahabat Radhiyallahu ‘anhu tidak pernah berdiri untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila beliau datang kepada mereka, demikian ini karena mereka tahu bahwa beliau tidak menyukai hal itu.

Ketiga.
Berdiri untuk menyambut yang datang atau menuntunnya ke tempat atau mendudukannya di tempat duduknya dan sebagainya. Yang demikian ini tidak apa-apa, bahkan termasuk sunnah, sebagaimana yang telah dijelaskan di muka.

[Majmu’ Fatawa Ibn Baz, Juz 4, hal.396]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-3, Darul Haq]

Saturday, October 3, 2009

Terjadinya Kiamat Menurut Islam




Beriman kepada hari qiyamat merupakan unsur pokok keimanan dalam Islam. Tanpa beriman kepada hari qiyamat, iman seseorang tidak akan diterima. Sebagaimana tidak diterima apabila tidak beriman kepada Allah, malaikat-malaikat Allah, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan qadha qadar dariNya.

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
"...Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan hari kemudian (qiyamat), maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya."(An-Nisaa':136).

Mengenai kepastian adanya Hari Qiyamat itu sendiri Allah menegaskan dalam firman-firmanNya, diantaranya:
"Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-sekali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: Tidak demikian, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan , kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah."(At-Taghabun/ 64:7).

Allah subhannahu wa ta'ala berfirman pula, yang artinya:
"...serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (qiyamat) tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka." (As-Syura/ 42:7)

Dan firman Allah Subhannahu wa Ta'ala yang artinya:
"Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami." (An-Naml/ 27:82).

Firman Allah Subhannahu wa Ta'ala yang artinya:
"Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya'juj dan Ma'juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari qiyamat), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir." (Al-Anbiyaa': 96-97).

Firman Allah Subhannahu wa Ta'ala yang artinya:
"Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka pada hari itu terjadilah qiyamat, dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan malaikat menjunjung 'Arasy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah). Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: Ambillah, bacalah kitabmu (ini). Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab (perhitungan) terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai, dalam surga yang tinggi. Buah-buahannya dekat, (kepada mereka dikatakan): Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu. Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: Wahai alangkah baiknya sekiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaan dariku. (Allah berfirman): Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin."(Al-Haaqqah/ 69:13-34).

Masih banyak ayat-ayat lain di dalam Al-Qur'an yang menegaskan tentang hari qiyamat.

Tanda-tanda qiyamat

Adapun tanda-tanda qiyamat, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan dengan beberapa haditsnya. Diantaranya:
"Sesungguhnya qiyamat itu tidak akan terjadi sebelum adanya sepuluh tanda-tanda qiyamat, yaitu tenggelam di Timur, tenggelam di Barat, tenggelam di Jazirah Arab, adanya asap, datangnya Dajjal, Dabbah (binatang melata yang besar), Ya'juj dan Ma'juj, terbit matahari dari sebelah barat, keluar api dari ujung Aden yang menggiring manusia, dan turunnya Nabi Isa."(Hadits Riwayat Muslim).

Penjelasan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam sabdanya yang lain:
"Dajjal datang kepada umatku dan hidup selama 40 tahun, lalu Allah mengutus Isa bin Maryam, kemudian ia mencari Dajjal dan membinasakannya. Kemudian selama 70 tahun manusia hidup aman dan damai, tak ada permusuhan antara siapapun. Sesudah itu Allah meniupkan angin yang dingin dari arah negeri Syam (kini Suriah, pen). Maka setiap orang yang dalam hatinya masih ada kebajikan meskipun sebesar atom, pasti menemui ajalnya. Bahkan jika seandainya seseorang dari kamu masuk ke dalam gunung, pasti angin itu mengejarnya dan mematikannya. Maka sisanya tinggal orang-orang jahat seperti binatang buas (fii khiffatit thoiri wa ahlaamis sibaa'), mereka tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran. Dan syetan menjelma pada mereka (manusia) lalu berkata: Maukah kamu mengabulkan? Manusia berkata: Apa yang akan kamu perintahkan kepada kami? Syetan lalu memerintahkan kepada mereka agar menyembah berhala, sedang mereka hidup dalam kesenangan. Kemudian ditiuplah sangkakala. Tapi seorangpun tak akan mendengarnya kecuali orang yang tajam pendengarannya. Dan orang yang pertama kali mendengarnya yaitu seorang laki-laki yang mengurusi untanya. Nabi bersabda: Maka matilah semua manusia. Kemudian turunlah hujan seperti hujan gerimis. Maka keluarlah dari situ jasad manusia (dari kubur-kuburnya). Kemudian ditiup lagi sangkakala, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu. Lalu dikatakan kepada mereka: Wahai manusia, marilah menghadap kepada Tuhanmu dan merekapun berada di Mahsyar karena mereka akan diminta tanggung jawabnya. Kemudian dikatakan kepada mereka, pergilah kamu karena neraka telah dinyalakan, lalu dikatakan lagi: Dari berapakah? Lalu dikatakan lagi: Dari setiap seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang. Begitulah keadaannya pada hari anak dijadikan beruban dan pada hari betis disingkap (hari Qiyamat yang menggambarkan orang sangat ketakutan yang hendak lari karena huru-hara Qiyamat)." (Hadits Riwayat Muslim).

Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika berkhutbah:
"Wahai manusia, bahwasanya kamu nanti akan dihimpun Allah dalam keadaan telanjang kaki, telanjang bulat, dalam keadaan kulup (tidak dikhitan). Ingatlah bahwa orang yang mula-mula diberi pakaian adalah Ibrahim AS. Ingatlah bahwa nanti ada di antara umatku yang didudukkan di sebelah kiri. Ketika itu aku berkata: Ya Tuhan, (mereka itu adalah) sahabatku. Lalu Tuhan berkata: Engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sesudah kamu (wafat)."(HR Muslim).

Pertanggung jawaban

Mengenai pertanggungan jawab perbuatan, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Pada hari Qiyamat, setiap hamba tak akan melangkah sebelum ditanya empat hal, yaitu tentang umur untuk apa ia habiskan, ilmunya untuk apa ia amalkan, hartanya dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan, dan (kesehatan) badannya untuk apa ia pergunakan."(HR Tirmidzi, hadits hasan shahih, dan teks ini menurut riwayat Muslim).

Tentang dahsyatnya keadaan Qiyamat sampai manusia tak ingat pada lainnya, adapun penjelasannya:
"Dari Aisyah , Bahwa ia teringat Neraka lalu menangis, maka Rasulullah ` bertanya: Apa yang menyebabkan engkau menangis? Aisyah menjawab: Aku teringat pada Neraka, hingga aku menangis. Apakah pada hari Qiyamat kamu akan ingat pada keluargamu? Jawab Nabi shallallahu 'alaihi wasallam : Adapun di tiga tempat, orang tidak teringat pada yang lainnya, yaitu ketika ditimbang amalnya sebelum dia mengetahui berat ringannya amal kebaikannya. Ketika buku catatan amalnya beterbangan sebelum dia mengetahui di mana hinggapnya buku itu, di sebelah kanan, kiri, atau di belakangnya. Dan ketika meniti titian/jembatan (shirath) yang terbentang di punggung neraka Jahannam sebelum dia melaluinya."(HR Abu Daud, hadits hasan).

Itulah peristiwa Qiyamat yang wajib kita yakini beserta tanda-tandanya. Semuanya itu merupakan hal yang ghaib, hanya Allah yang mengetahui, sedang Nabi shallallahu 'alaihi wasallammengkhabarkan itu dari wahyu Allah. Maka hal-hal yang tak sesuai dengan penjelasan Allah dan RasulNya mesti kita tolak, meskipun datangnya dari orang yang mengaku intelek, pakar, ataupun mengaku telah menyelidiki bertahun-tahun dengan metode yang disebut ilmiah dan canggih. Sebaliknya, kalau itu datang dari Allah dan RasulNya, maka wajib kita imani. Dan beriman kepada Hari Qiyamat itu merupakan halyangtermasuk pokok di dalamIslam seperti tersebut di atas. Mengingkarinya berarti rusak keimanannya. (Hartono).

Rujukan: Minhajul Muslim , oleh Abu Bakr Al-Jazairi, Darul Fikr.